Penambah Gairah Ibadah

Bismillah wasyukrulillah, semoga kita saat ini masih diberikan rahmat dan kesejahteraan serta disempurnakan dengan dua ni’mat, yakni ni’mat sehat dan ni’mat hidayah, Alhamdulillah.

Saudara dan saudariku yang semoga dirahmati Alloh Taa’ala, sebagai mukmin tentu tidak selamanya kita dalam kondisi memiliki semangat penuh dalam beribadah. Ada kalanya disuatu hari kita berada pada posisi puncak ibadah yang bagus, dan ada kalanya kita beribadah pada kondisi kualitas ibadah yang memprihatinkan, kondisi di mana kita berada pada titik jenuh beribadah yang dalam istilah lainnya adalah mengalami “futur”. Dan memang demikianlah tabiat iman terkadang naik dan terkadang turun(fluktuafif).

Saudaraku dan saudariku sekalian yang semoga Alloh merahmati, ketahuilah ada beberapa hal yang sekiranya patut kita renungkan untuk senantiasa memperbaiki kondisi, yakni ketika dalam kualitas iman berkurang.  Tentu amat tidak bijak ketika iman dalam kondisi melemah, kita justru larut dalam keterpurukan itu. Berikut adalah beberapa hal yang mungkin bisa sedikit bisa menjadi penawar bagi kondisi jiwa yang kondisi keimanannya sedang melemah.

Senantiasa menuntut ilmu

Ketahuilah, hati itu ibarat taman bunga yang jika tidak secara rutin disirami ia akan layu dan tanahnyapun akan kering, bagaimana keadaan tersebut bisa menyegarkan bunga dan menyuburkan tanahnya? Atau ilmu itu bagaikan purnama di kegelapan, yang dengannya mampu menjadi penerang bagi pejalan kaki yang safar di malam hari. Atau, ilmu itu bagai air hujan yang kedatangannya mampu menumbuhkan biji-bijian. Subhanalloh, apakah kita termasuk orang yang buruh akan ilmu?

Ulama berkata,”cukuplah seseorang dikatakan berilmu jika memiliki rasa takut kepada Alloh subhanahu wata’ala”.Ilmu itu bukan untuk mendebat orang jahil, dalam rangka membangga-banggakan diri, akan tetapi hakikat dari ilmu adalah dalam rangka mengumpulkan rasa takut kita kepada Alloh Ta’la. Sungguh sangat disayangkan, jika orang telah kenyang menuntut ilmu akan tetapi minim rasa takutnya kepada Alloh Ta’ala.

Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 “Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Dia akan memahamkan baginya agama (Islam)(HSR al-Bukhari (no. 2948) dan Muslim (no. 1037))

Perlu kita renungkan saudaraku, hendaknya seorang penuntut ilmu mengiringi dirinya dengan rasa takut. Adapun kadar rasa takutnya sudah semestinya sebanding dengan banyaknya ilmu yang dimilki, ketundukannya, kekhusyu’annya bahkan akhlak dalam keseahriannya menjadi indikator baik buruknya ilmu yang dimilikinya.

Saudariku, intinya hadits yang dinukil di atas bahwa Alloh akan memberi pemahaman agama keapda seseorang yang dikehendaki. Nah permasalahnnya sudahkah kita berusaha menjadi orang yang dikehendaki Alloh, yakni faham akan agama? Tentunya ketika mampu mengiri diri kita dengan rasa takut dalam menuntut ilmu adalah salah satu cara untuk menjadi orang yang dikehendaki kebaikan oleh Alloh subhanahu wata’ala.

 Pandai memilih teman bergaul 

Saudara dan saudariku semoga Alloh merahmati, teman salah satu hal yang membari pengaruh besar baik atau buruk kualitas kehidupan agama kita. Manakala teman yang sehari-hari bersama kita baik, tentu akan member pengaruh baik pula. Adapun jika teman yang setiap hari bersama kita buruk, tentu pula akan member pengaruh buruk bagi kehidupan agam kita. Jelasnya, indikator kebaikan seseorang akan agamanya adalah bersama siapa ia berteman.

Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasalam bersabda;

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

 

Saudaraku, mari kita mulai pandai memilih teman yang baik demi kebaikan agama kita. Tentu kita tidak ingin menjadi bahan santapan api neraka, hanya lantaran ketika di dunia kita salah dalam bergaul. Alloh Ta’alaberfirman;

“ Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an sesudah Al Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia” (Al Furqan:27-29)

Pertanyaan untuk diri kita, apakah kita sudah memilih dengan siapa kita memilih teman dekat kita? Karena, dengan siapa kita berteman menjadi kunci baik atau buruknya kehidupan agama kita.

Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

 Berdo’a

Saudara –saudariku yang semoga Alloh Ta’ala merahmati, kita diperinthakan untuk berdo’a dalam setiap solat yakni meminta petunjuk. 5kali dalam sehari dalam setiap sholat khusus meminta hidayah, di manakah itu? Tidak terkecuali dalam salah satu rukun sholat, yaitu membaca surat al fatihah. “ihdinas shirootol mustaqiimi”. Do’a memiliki peran penting bagi kehidupan seseorang, terlebih kehidupan agamanya.

“Barang siapa diantara kalian telah dibukakan baginya pintu doa, pasti dibukakan pula baginya pintu rahmat, dan tidaklah Allah diminta sesuatu yang Dia berikan lebih Dia senangi dari pada diminta kekuatan.” Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “sesungguhnya doa itu bermanfaat baik terhadap apa yang terjadi maupun belum terjadi, maka hendaklah kalian berdoa.” (HR. At-Tirmidzi V/552 no.3548, dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma )

Jangan pernah jemu berdo’a kepada Alloh ta’ala terlebih demi kebaikan agamanya. Doa adalah salah satu hal yang mempu merubah takdir seseorang. Sebagai aman sabda rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam sebagai berikut;

“Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan) Allah ta’aala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.” (HR Tirmidzi 2065)

  Terakhir, mari kita senantiasa memohon agar diri kita dimudahkan oleh Alloh subhanahu wata’ala dalam beribadah. Yang mana dengannya kita termasuk orang yang Alloh pilih sebagi hamba yang berhaq mendapat gelar taqwa, satu gelar yang paling mulia di sisi Alloh subhanahu wata’ala.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s